Jumat, 28 Oktober 2011

Gerwani, Korban Politik Rezim Orba

Judul : Gerwani, Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan
Penulis : Amurwani Dwi Lestariningsih
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, September 2011
Tebal : xxviii+300 halaman

Nama Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah nama yang tidak asing terdengar dalam sejarah Indonesia. Gerakan yang awalnya bersifat sosial, yang terutama bertujuan untuk memajukan kaum perempuan (feminisme), kemudian berubah menjadi politis ketika secara resmi menggabungkan diri dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Buku karya Amurwani Dwi Lestariningsih ini menguak apa yang terjadi dengan anggota Gerwani pasca peristiwa tragis G30S, setelah sebelumnya mengulas sejarah Gerwani sejak awal berdirinya. Plantungan, nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu nasib anggota Gerwani. Inilah kamp penampungan tahanan politik rezim Orde Baru (Orba), terutama terhadap orang-orang komunis, khususnya anggota-anggota Gerwani.

Gerwani, seperti diulas di bagian kedua buku ini, pada mulanya berasal dari Gerwis, kependekan dari Gerakan Wanita Indonesia Sedar. Organisasi ini didirikan atas prakarsa S.K. Trimurti bersama beberapa pejuang wanita, teutama yang pernah melakukan gerilya pada Agresi Militer Kedua. Mulanya Gerwis beranggotakan kaum wanita yang sadar akan politik. Organisasi ini adalah fusi dari enam organisasi wanita, yaitu Rukun Puteri Indonesia (Rupindo) dari Semarang, Persatuan Wanita Sedar dari Bandung, Persatuan Wanita Sedar dari Surabaya, Gerakan Wanita Rakyat Indonesia Kediri (Gerwindo), Perjuangan Puteri Republik Indonesia dari Pasuruan, dan Persatuan Wanita Sedar Madura.

Keberadaan Gerwis ini bermula dari pertemuan di Surabaya pada 7 Mei 1950. Selanjutnya, hasil kongres pada 3-6 Juni 1950 di antara organisasi itu disepakati pembentukan organisasi baru, yaitu Gerakan Wanita Sedar atau Gerwis. Gerwis berubah nama menjadi Gerwani mulai kongres II Gerwis tahun 1954. Sejak itu, Gerwani resmi menjadi organisasi wanita yang berorientasi pada penggalangan massa seluas-luasnya dan berjuang demi hak-hak wanita dan anak-anak. Pada Pemilu 1955, secara resmi Gerwani menyatakan bergabung dengan PKI karena dua alasan. Pertama, ada peluang anggota Gerwani menjadi anggota legislatif. Kedua, program-program PKI dirasakan seide dengan Gerwani (hlm. 52-53).

Gerwani kemudian identik dengan PKI, baik secara organisasi maupun keanggotaan. Itulah sebabnya setelah tragedi G30S mencuat, Gerwani menjadi sasaran pembersihan tentara di samping orang-orang PKI sendiri. Berbagai propaganda dilancarkan terhadap anggota Gerwani melalui surat kabar Berita Yudha dan Angkatan Bersendjata. Misalnya, Gerwani diprogandakan begitu sadis menyiksa para jenderal dengan memotong alat vital mereka sebelum dimasukkan ke sumur Lubang Buaya. Hasil otopsi membuktikan tidak ada satu pun bekas sayatan benda tajam di alat vital para jenderal itu.

Anggota Gerwani kemudian diburu dan ditahan di kamp Plantungan dari 1970-1979. Mereka diasingkan, diisolasi, dan dijauhkan dari masyarakat. Beberapa di antara mereka mengalami pelecehan seksual dari oknum petugas, bahkan hingga ada yang sampai hamil. Ketika secara bertahap mulai 1977 mereka dibebaskan pun, kondisi terasing itu tetap mereka rasakan.

Rezim Orba memberlakukan kebijakan diskriminatif dengan memberi mereka cap ET (eks tahanan) pada KTP mereka. Belum lagi stigma negatif yang terus melekat di masyarakat terhadap mereka. Era Orba sudah berlalu. Masyarakat perlu mengetahui sejarah Gerwani yang sesungguhnya. Mereka hanya korban politik sebuah rezim yang menutupi kebenaran sejarah.

Dimuat di Harian Koran Jakarta, Jumat 28 Oktober 2011

0 komentar:

Poskan Komentar