Minggu, 02 Januari 2011

Bani Tsaqif Masuk Islam; Buah Doa dan Kesabaran Rasulullah

Oleh : FAJAR KURNIANTO

Ditaklukkannya Mekkah benar-benar mengubah konstelasi sosial di Jazirah Arab. Banyak sekali kabilah-kabilah Arab yang dahulunya melawan Rasulullah di Madinah berubah haluan, berafiliasi dengan Madinah. Salah satu dari kabilah itu adalah Tsaqif. Tsaqif ini adalah kabilah di Thaif yang pada masa dulu mengusir dan menyakiti Rasulullah ketika menyampaikan kebenaran di Thaif.

Kabilah Tsaqif mengirimkan beberapa orang utusan di bawah pimpinan Kiananah bin Abdul Yalil ke Madinah pasca Perang Tabuk guna menyampaikan maksud keislaman mereka. Tidak jauh dari Madinah, mereka bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah bernama Mughirah bin Syu’bah, yang juga dari kabilah Tsaqif. Mengetahui maksud mereka, Mughirah sangat senang. Ia pun sedikit mengajari mereka ajaran Islam sebelum bertemu dengan Rasulullah nantinya.

Masuk ke Madinah, utusan kabilah Tsaqif ini langsung menuju ke masjid, kemudian mendirikan tenda di sekitarnya. Rasulullah sangat senang mengetahui maksud kedatangan mereka. Setiap selesai shalat Isya, beliau menemui mereka untuk mengajarkan Islam. Di antara utusan itu ada yang begitu antusias untuk belajar Islam, yakni Utsman bin Abul Ash. Dia ini adalah yang paling muda di antara utusan-utusan yag lainnya. Dikisahkan, ia selalu terlambat mengikuti majlis Rasulullah. Ketika orang-orang pulang, ia baru datang menemui beliau. Apabila ia mendapati Rasulullah sudah tertidur, ia menemui Abu Bakar. Rasulullah sangat senang dengan spirit Utsman ini.

Beberapa hari bersama Rasulullah dan tinggal di sekitar masjid membuat para utusan kabilah Tsaqif itu mengerti Islam dan mantap untuk memeluknya. Sebelum mereka kembali ke Thaif, Kinanah bin Abdul Yalil, pimpinan utusan Tsaqif, berdialog dengan Rasulullah tentang beberapa hal, di antaranya tentang zina, riba, khamar, dan orang yang meninggalkan shalat.

Tentang zina, Rasulullah menanggapi bahwa hal itu adalah perbuatan yang diharamkan Allah, seperti yang difirmankan-Nya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’: 32)

Mengenai riba, Rasulullah memberikan jawaban bahwa yang boleh dilakukan adalah mengambil uang pokoknya saja, tidak dengan bunganya, karena itu riba. Beliau menyampaikan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah: 278)

Berkenaan dengan khamar, Rasulullah menegaskan tentang keharamannya. Beliau menyampaikan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Ma’idah: 90)

Sementara mengenai orang yang meninggalkan shalat, Rasulullah mengingatkan bahwa orang itu tidak akan mendapatkan kebaikan sama sekali.

Kinanah kemudian menemui para utusan yang lainnya, memberitahukan hal tersebut. Setelah itu, ia kembali menemui Rasulullah dan menyatakan akan mematuhi semua larangan itu. Namun, sebelum mereka kembali ke Thaif, mereka meminta Rasulullah agar mengizinkan mereka untuk tidak menghancurkan patung Lata selama tiga tahun. Permintaan itu secara tegas ditolak oleh beliau. Ia terus mendesak beliau, namun beliau menyatakan tidak ada toleransi dalam hal ini. Segala bentuk patung yang disembah harus dihancurkan, tegas beliau.

Mereka mengajukan permohonan itu karena merasa khawatir akan dicela oleh keluarga dan kaumnya. Mereka berpandangan, akan lebih baik jika mereka diajarkan Islam secara benar terlebih dahulu, karena jika Islam sudah merasuk ke lubuk hati mereka, dengan sendirinya pada saatnya nanti patung-patung itu juga akan mereka hancurkan. Mereka tetap tidak ingin menghancurkan Lata, namun Rasulullah menegaskan bahwa Lata harus dihancurkan. Rasulullah akhirnya menunjuk salah satu di antara mereka untuk melakukannya. Dan, orang itu adalah Utsman bin Abul Ash. Tidak hanya itu, beliau juga mengirimkan rombongan beberapa orang sahabatnya untuk ikut bersama mereka ke Thaif, dan Khalid bin al-Walid ditunjuk sebagai pemimpinnya. Di dalam rombongan itu terdapat Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb.

Sampai di Thaif, mereka menghancurkan patung Lata bersama-sama. Dikisahkan, beberapa orang wanita kabilah Tsaqif yang menyaksikan penghancuran itu menangis histeris. Namun, itu tidak berlangsung lama. Semua orang dari kabilah ini kemudian masuk Islam dengan sukarela dan mantap. Mughirah bin Syu’bah yang menyaksikan mereka berkomentar, “Kabilah Tsaqif sudah masuk Islam. Aku tidak tahu dari sekian banyak kabilah di Arab yang Islamnya lebih lurus dan baik selain daripada orang-orang dari kabilah Tsaqif.”

Masyarakat Thaif telah berubah dari yang garang, kejam, dan penuh permusuhan dengan Rasulullah menjadi sahabat, mitra, dan kaum muslim terbaik di mata para sahabat Rasulullah. Inilah antara lain buah dari kesabaran Rasulullah dahulu ketika berdakwah ke sana. Ketika itu, beliau ditolak mentah-mentah, bahkan diusir dan dilempari batu sampai dahi beliau terkena lemparan itu dan mengucur darah segar. Saat itu, tidak hanya kalangan tua, tapi juga anak-anak kecil yang dipaksa oleh para orang tua mereka untuk melempari beliau. Mengalami perlakuan buruk itu, Rasulullah tidak marah. Bahkan, ketika malaikat Jibril turun menawarkan bantuanya untuk menghancurkan Thaif dan warganya, beliau tidak mau melakukannya. Beliau malah berdoa agar Allah segera memberi mereka hidayah. Menurut beliau, mereka hanyalah orang-orang yang tidak tahu.

Kesabaran dan ketabahan memang selalu berbuah manis, meski itu harus melewati masa yang cukup lama. Rombongan kabilah Tsaqif menemui Rasulullah dan menyatakan ingin sekali masuk Islam dan siap dengan segala konsekuensinya. Mereka memang enggan untuk menghancurkan Lata, tapi itu tidak berarti mereka ingin tetap menyembah Lata. Mereka hanya khawatir, perubahan secara radikal, dan itu dilakukan oleh mereka sendiri, akan melahirkan gejolak yang sangat besar. Rasulullah memahami itu. Tapi, bagi beliau, paganisme tidak bisa ditoleransi. Meski begitu, beliau juga memahami bahwa memang perubahan tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Beliau mengerti jalan pikiran mereka. Karena itu, beliau mengirimkan rombongan sahabat dengan dipimpin oleh Khalid bin al-Walid yang akan menghancurkan Lata.

Doa Rasulullah ketika darah mengucur dari dahinya di sebuah kebun milik orang Thaif sudah dikabulkan Allah. Orang-orang Thaif telah mendapatkan hidayah. Mereka juga kini mengetahui kebenaran yang sejati. Kebenaran yang bukan terdapat pada Lata, tapi pada ajaran-ajaran Rasulullah. Kesabaran dan ketabahan, sekali lagi, menjadi kunci sukses dakwah beliau. Perubahan selalu tidak dalam sekejap mata atau seperti membalikkan telapak tangan. Perubahan perlu doa dan upaya keras untuk merealisasikannya. Rasulullah berdoa agar orang-orang Thaif mendapat hidayah, dan beliau teruskan doa itu dengan upaya keras dalam bentuk sikap beliau yang pantang menyerah memperjuangkan kebenaran itu. Hasil manisnya pun terbukti jelas.

0 komentar:

Poskan Komentar